Tak Mampu Ditaklukkan AS dan Israel, Mungkinkah Pemberontakan Domestik Mampu Gulingkan Mojtaba?

13 hours ago 7

loading...

Pemberontak Kurdi jadi ancaman terbesar bagi Iran. Foto/X

TEHERAN - Otoritas Iran berulang kali mengumumkan penangkapan dan bentrokan dengan sel-sel bersenjata kecil di dalam negeri, atau pertempuran kecil dengan kelompok bersenjata di sepanjang perbatasan darat, khususnya menjelang dan selama perang dengan Israel dan Amerika Serikat.

Mereka berupaya membingkai perang tersebut sebagai perjuangan demi keamanan nasional sembari mengirimkan pesan mengenai kendali dan efek gentar kepada khalayak di dalam maupun luar negeri.

Dalam salah satu kejadian terbaru, media pemerintah pada hari Minggu menyatakan bahwa anggota jaringan yang terdiri dari delapan orang—yang diduga berafiliasi dengan kelompok "anti-revolusioner" dan "pro-monarki"—telah ditangkap. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di provinsi Fars, wilayah selatan Iran, menuduh mereka yang ditangkap menggunakan bom molotov dan membakar ban selama protes nasional pada bulan Januari.

Para pemimpin Republik Islam Iran dalam beberapa pekan terakhir juga menyatakan kekhawatiran akan potensi protes lanjutan seiring meningkatnya ketidakpuasan publik di tengah memburuknya kondisi ekonomi.

Selama protes di Iran pada bulan Januari dan di media sosial, sejumlah warga Iran menyatakan dukungan bagi kembalinya sistem monarki negara tersebut, yang digulingkan dalam revolusi Islam tahun 1979.

Reza Pahlavi—putra dari Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, yang kini tinggal di luar negeri—telah menjadi tokoh penentang utama pemerintah Iran; pada bulan Januari, ia menyerukan warga Iran untuk bergabung dalam aksi mogok dan protes nasional. Ribuan orang diperkirakan tewas dalam kerusuhan tersebut.

Namun, meskipun ada kejadian di mana seruan dukungan bagi Pahlavi diteriakkan di Iran, saat ini tidak ada kelompok bersenjata pro-monarki terorganisir berskala besar yang beroperasi di dalam negeri.

Selain itu, meskipun berbagai demonstrasi nasional telah melanda Iran dalam beberapa tahun terakhir, aksi-aksi tersebut sebagian besar dipicu oleh keluhan ekonomi dan penindakan keras di dalam negeri, bukan oleh dukungan terhadap monarki. Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka membahas tujuan untuk menggulingkan negara Iran pada bulan-bulan awal perang yang dimulai pada akhir Februari tersebut. Seruan agar sistem monarki menggantikan Republik Islam telah mengemuka secara khusus dalam berbagai unjuk rasa di luar Iran.

Sejak saat itu, pemerintah Iran telah mengumumkan penangkapan sejumlah besar orang yang mereka sebut sebagai pendukung monarki.

Penangkapan tersebut mencakup 111 kelompok yang disebut sebagai "sel monarkis" di 26 provinsi, sebagaimana diumumkan oleh Kementerian Intelijen pada tanggal 18 Maret.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |