IHSG Sempat Anjlok Parah ke Level Terendah, Pekan Ini Berpeluang Cetak Rebound Terbatas

16 hours ago 4

loading...

IHSG pekan ini diproyeksikan berpeluang cetak rebound terbatas dalam rentang 6.318-6.45, setelah mengalami tekanan hebat pada periode 18–22 Mei 2026 dengan koreksi tajam sebesar -8,35%. Foto/Dok

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) mengalami tekanan hebat pada periode 18-22 Mei 2026 dengan koreksi tajam sebesar -8,35% ke level 6.162,045, bahkan sempat menyentuh level terendah tahun ini di posisi 5.966. Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Brigita Kinari, kejatuhan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang meningkatkan sikap menghindari risiko (risk-off) di kalangan investor.

Dari sisi eksternal, pasar dibayangi oleh sikap hawkish The Fed yang diprediksi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer), sehingga memicu penguatan dolar AS dan menekan nilai tukar Rupiah. Sementara dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 bps demi menjaga stabilitas mata uang justru menimbulkan kekhawatiran terkait perlambatan likuiditas ekonomi.

“Kekhawatiran investor sempat diperparah oleh rencana implementasi kebijakan ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti batu bara. Namun, munculnya rumor penundaan kebijakan tersebut hingga 1 Januari 2027 berhasil memicu rebound signifikan pada akhir pekan, khususnya didorong oleh lonjakan sektor basic materials (6,85%) dan energi (4,84%),” jelasnya.

Baca Juga: 10 Saham Paling Boncos dalam Sepekan, Terparah Ambles 53,49 Persen

Di tengah sikap wait and see pelaku pasar menanti hasil review FTSE Russell, aksi jual investor asing terpantau masih berlanjut dengan catatan net sell Rp309,52 miliar di akhir pekan. Tekanan ini menyebabkan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia ikut terpangkas sebesar 10,06% menjadi Rp10.635 triliun dari pekan sebelumnya.

Meskipun IHSG melemah tajam, aktivitas perdagangan justru mencatat peningkatan likuiditas dengan rata-rata nilai transaksi harian naik 15,68% menjadi Rp21,77 triliun. Hal ini mengindikasikan adanya aktivitas distribusi dan reposisi portofolio yang tinggi oleh investor di tengah pasar yang diperkirakan masih akan bergerak sangat volatil dalam jangka pendek.

Sentimen Global dan Domestik Pekan Ini

Menurut Brigita, pergerakan indeks utama Wall Street dalam sepekan kedepan (25-29 Mei) diperkirakan masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan variatif (mixed). Hal ini terjadi setelah pasar sepanjang pekan 18–22 Mei 2026 dipengaruhi oleh kombinasi sentimen geopolitik di Timur Tengah, pergerakan imbal hasil (yield) obligasi AS, serta adanya rotasi di sektor teknologi.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |