Dari Mimbar ke Layar, Ketika Algoritma Jadi Guru Agama

12 hours ago 8

loading...

Moh Purwadi Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (MKPI), UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Foto/SindoNews

Moh Purwadi
Mahasiswa Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam (MKPI), UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

SAYA masih ingat betul bagaimana kakek saya dulu berangkat ke masjid setiap subuh. Duduk di barisan depan, mendengarkan kiai berceramah dengan khusyuk. Suara kiai menggema di antara dinding masjid yang tua. Jemaah mengangguk-angguk, kadang menangis, kadang tersenyum. Itulah dakwah, pertemuan langsung antara penceramah dan pendengar, antara hati dan hati.

Sore ini, di sebuah caffee, saya melihat pemandangan yang sangat berbeda. Seorang pemuda duduk sendirian, ponsel di tangan, earphone di telinga. Layar ponselnya menampilkan seorang ustaz dengan pakaian rapi, berbicara di studio dengan latar belakang hijau. Pemuda itu tersenyum, sesekali mengangguk, lalu melanjutkan scrolling ke video berikutnya.

Dakwah telah bermigrasi. Dari mimbar ke layar. Dari masjid ke genggaman. Dan pertanyaannya sekarang: apakah pesan yang sampai masih sama?

Dunia yang Berubah

Angka-angka berbicara dengan keras. Laporan We Are Social (2025) mencatat pengguna internet di Indonesia telah melampaui 220 juta orang, dengan rata-rata waktu penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari. Tiga jam sehari. Dalam setahun, itu berarti lebih dari 45 hari penuh tanpa tidur, hanya untuk menggulir layar.

Di sinilah dakwah menemukan panggung barunya. Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi mengatakan, audiens umat sekarang sudah berubah total. "Mereka adalah anak muda, Generasi X, milenial, Z, hingga Generasi Alpha. Mereka semuanya digital native, sementara kami kelompok tua yang imigran digital. Gap ini harus diatasi," ujarnya.

Tapi gap itu bukan sekadar masalah teknis, siapa yang bisa mengunggah video dan siapa yang tidak. Ia adalah masalah peradaban. Cara orang mencari agama telah berubah. Survei terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen populasi Indonesia kini didominasi oleh generasi muda yang sebagian besar memperoleh pemahaman keagamaan dari ruang digital, bukan dari lembaga otoritatif. "Sekarang fenomenanya anak muda belajar agama bukan lagi dari ustaz atau lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma," kata Masduki.

Bayangkan. Seorang anak di Sumatera bisa membentuk pemahaman keagamaannya bukan dari guru ngajinya, bukan dari kitab kuning yang diajarkan kiai, melainkan dari video viral yang muncul di beranda TikTok-nya. Pertanyaan yang diajukan bukan lagi kepada ustaz di masjid, melainkan ke mesin pencarian.

"Sekarang fenomenanya anak muda belajar agama bukan lagi dari ustaz atau lembaga seperti MUI, tapi dari algoritma. Mereka bertanya ke mesin pencarian atau media sosial. Ini fenomena baru yang berpotensi berbahaya karena algoritma itu alat yang tekstual, memotong ayat tanpa konteks," tegas Masduki.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |