Saudi Mulai Kekurangan Rudal untuk Melawan Houthi: Minta Bantuan Prancis, Inggris, hingga Mesir

5 hours ago 4

loading...

Arab Saudi dilaporkan mulai kekurangan rudal pencegat untuk melawan kelompok Houthi Yaman. Riyadh pun minta bantuan negara-negara Barat. Foto/SPA

RIYADH - Arab Saudi mulai kekurangan rudal pencegat pencegat untuk menghadapi serangan kelompok Houthi Yaman. Riyadh pun meminta bantuan sejumlah sekutu regional dan negara Barat ketika ketegangan dengan kelompok tersebut berlarut-larut.

Mengutip laporan AP, Kamis (17/9/2026), dua pejabat regional mengatakan pada Rabu bahwa Arab Saudi telah meminta bantuan Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir mengerahkan dukungan pertahanan udara ke kawasan. Bantuan tersebut dibutuhkan untuk menghadapi ancaman rudal dan drone yang diluncurkan Houthi maupun kelompok milisi lain yang didukung Iran.

Baca Juga: Heboh Makkah Diserang: Arab Saudi Menuduh tapi Houthi Menyangkal, Siapa yang Benar?

Salah satu pejabat mengatakan langkah itu diambil karena Amerika Serikat (AS), sekutu utama sekaligus pemasok senjata terbesar Arab Saudi, juga mulai menghadapi penurunan stok rudal pencegat setelah enam bulan berperang melawan Iran.

Kedua pejabat tersebut berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan keterangan kepada media. Pemerintah Arab Saudi belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.

Arab Saudi Terdesak di Tengah Perang Iran

Konfrontasi antara Arab Saudi dan Houthi menjadi salah satu front baru yang muncul di tengah perang Iran melawan AS dan Israel.

Pada Rabu, Riyadh menuduh Houthi berupaya menyerang kota suci Makkah menggunakan drone. Tuduhan tersebut memicu kecaman dari berbagai negara di kawasan, meski sejauh ini belum ada indikasi pengerahan dukungan militer langsung untuk Arab Saudi.

Riyadh menyatakan Makkah, kota kelahiran Nabi Muhammad SAW, merupakan "garis merah". Arab Saudi mengatakan pertahanan udaranya berhasil mencegat drone tersebut sebelum mencapai kota suci.

Houthi membantah telah menargetkan MAkkah. Kota tersebut berjarak sekitar 1.100 kilometer dari perbatasan Arab Saudi-Yaman.

Di tengah meningkatnya serangan, Arab Saudi menghadapi persoalan ganda. Sebagai eksportir minyak terbesar di dunia, kerajaan itu membutuhkan perlindungan terhadap fasilitas energinya sekaligus jalur yang aman untuk menyalurkan minyak mentah ke pasar internasional. Namun, kedua kebutuhan tersebut kini menghadapi tekanan.

Salah satu jaringan pipa minyak penting Arab Saudi dilaporkan ditutup selama beberapa pekan setelah diserang milisi yang didukung Iran di Irak.

Houthi juga terus menargetkan infrastruktur Arab Saudi serta kapal-kapal yang melintas di Laut Merah. Kelompok tersebut bahkan dilaporkan telah menguasai sejumlah pulau di sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Di sisi lain, Iran masih menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat jalur ekspor energi utama dunia semakin tidak menentu dan mendorong harga minyak tetap berada di atas USD100 per barel.

Salah satu pejabat regional menggambarkan posisi Arab Saudi saat ini sebagai "sangat sulit".

Menurutnya, Riyadh tidak hanya harus melindungi pangkalan militer dan fasilitas vital pemerintah, tetapi juga menjaga fasilitas minyak yang tersebar di berbagai wilayah kerajaan.

Arab Saudi Terus Galang Dukungan Internasional

Pejabat kedua mengatakan Arab Saudi juga berupaya menggalang dukungan dari sekutu internasional untuk menghadapi Houthi secara bersama-sama.

"Namun, keputusan saat ini adalah memberikan kesempatan kepada diplomasi," kata pejabat tersebut.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |