Rupiah Melemah 0,32% dalam Sepekan, Pekan Depan Diramal Sentuh Rp18.300

12 hours ago 3

loading...

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah secara mingguan. FOTO/dok.SindoNews

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah 0,32% secara mingguan meski berhasil ditutup menguat pada perdagangan terakhir pekan ini. Pelaku pasar menilai kombinasi sentimen global dan domestik masih membayangi pergerakan mata uang Garuda sehingga rupiah berpotensi bergerak hingga level Rp18.300 per dolar AS pada pekan depan.

"Meskipun Komando Pusat AS menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa jeda diplomatik yang sempat terjadi bisa segera buyar," kata Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam pernyataannya, Minggu (2/8/2026).

Baca Juga: IHSG Dibuka Hijau, Rupiah Perkasa di Tengah Tekanan Dolar AS

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,49% secara harian ke posisi Rp18.022 per dolar AS pada perdagangan Jumat (31/7). Namun, dibandingkan posisi penutupan Jumat (24/7) di level Rp17.963 per dolar AS, nilai tukar rupiah masih melemah 0,32% secara mingguan. Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menguat 0,11% menjadi Rp18.058 per dolar AS, tetapi secara sepekan masih terkoreksi 0,47% dari posisi Rp17.973 per dolar AS.

Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan rudal balistik Iran yang menargetkan pasukan Amerika Serikat di kawasan. Kondisi tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya risiko geopolitik global.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati hasil rapat Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga acuan atau Federal Funds Rate di kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut diwarnai perbedaan pandangan di internal Federal Open Market Committee (FOMC), di mana tiga dari 12 anggota menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk mengendalikan inflasi.

Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh menilai kondisi pasar tenaga kerja yang lebih ketat telah membantu meredakan tekanan inflasi, namun tetap membuka peluang penyesuaian kebijakan apabila tekanan harga kembali meningkat.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |