loading...
Pengurus APHI audiensi dengan Sekda Maluku Utara Samsuddin A Kadir bersama Kepala Dinas Kehutanan Malut di Sofifi, Maluku Utara, Selasa (21/07/2026). Foto/Dok. SindoNews
SOFIFI - Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia ( APHI ) mendorong penerapan multiusaha kehutanan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya hutan sekaligus meningkatkan kontribusi sektor kehutanan terhadap perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Maluku Utara. Saat ini Maluku Utara memiliki 16 Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dengan luas keseluruhan mencapai 739.026 hektare. Terdiri dari PBPH Pemanfaatan Hutan Alam dan Budidaya Hutan Tanaman. Namun, perkembangan produksi menunjukkan adanya perubahan struktur usaha kehutanan di provinsi tersebut.
“Tren produksi kayu alam di Maluku Utara terus menurun, sementara produksi dari hutan tanaman menunjukkan peningkatan. Perubahan ini perlu direspons melalui transformasi pengelolaan hutan yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan,” kata Ketua Umum APHI Soewarso saat audiensi bersama Dewan Pengurus APHI dan Ketua Komda APHI Maluku Utara, Arif Budiantoro dan jajarannya dengan Sekda Maluku Utara Samsuddin A Kadir bersama Kepala Dinas Kehutanan Malut di Sofifi, Maluku Utara, Selasa (21/07/2026). Baca juga: APHI dan New Forests Dukung Investasi Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Menurut dia, kebijakan Multiusaha Kehutanan membuka peluang bagi PBPH untuk tidak hanya bergantung pada produksi kayu, tetapi juga mengembangkan hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, agroforestri, serta berbagai potensi usaha berbasis kawasan hutan lainnya. Penerapan multiusaha kehutanan diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya hutan Maluku Utara dengan tetap memperhatikan prinsip kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.
“Pengelolaan hutan perlu didorong tidak hanya berbasis kayu, tetapi juga hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan. Dengan demikian, potensi sumber daya hutan Maluku Utara dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologis secara lebih optimal,” ujarnya.
Soewarso menilai salah satu tantangan pengelolaan sumber daya alam di Maluku Utara adalah masih lemahnya daya saing sektor kehutanan dibandingkan sektor pertambangan. Padahal, sektor kehutanan memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai penggerak ekonomi jangka panjang yang berkelanjutan.


















































