Manfaatkan Inflasi Tinggi dan Krisis Fiskal, AS Gunakan Taktik 'Catur' Serang Iran

3 hours ago 1

loading...

Washington memilih membiarkan tekanan ekonomi terhadap Teheran meningkat. FOTO/SCMP

WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya memilih pendekatan yang lebih tenang dalam menghadapi Iran di tengah belum tercapainya kesepakatan membuka kembali Selat Hormuz. Washington tampaknya memilih membiarkan tekanan ekonomi terhadap Teheran meningkat, termasuk akibat inflasi tinggi dan keterbatasan keuangan, ketimbang memerintahkan serangan militer baru.

"Kami mengambil pendekatan yang lebih tenang," kata Trump dalam percakapan telepon singkat dengan Axios, seperti dikutip South China Morning Post, Selasa (10/8/2026).

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Tunjuk Jenderal IRGC Jadi Panglima Militer Iran di Tengah Perang Lawan AS

Trump mengatakan AS saat ini hanya mengamati kondisi Iran yang menghadapi inflasi tinggi dan keterbatasan keuangan. Sikap tersebut menunjukkan Washington masih mengandalkan tekanan ekonomi sebagai instrumen untuk mendorong Teheran mencapai kesepakatan.

Menurut Axios, Trump tidak menunjukkan kekecewaan atas penundaan Iran dalam menyepakati pembukaan kembali Selat Hormuz. Iran sebelumnya menuntut AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan mencabut sanksi minyak sesuai nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada Juni.

"Kami hanya bernegosiasi secara terbatas dengan mereka. Kami hanya mengamati Iran dengan inflasinya yang sangat tinggi dan kenyataan bahwa mereka tidak memiliki uang," ujar Trump.

Blokade Selat Hormuz oleh Iran sejak pecahnya perang telah mendorong kenaikan harga bahan bakar dan mengguncang perekonomian global. Gangguan terhadap jalur pelayaran strategis tersebut juga meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu AS pada November.

Baca Juga: Krisis Minyak Global Memburuk, G7 Gelar Pertemuan Darurat

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |