Krisis Global, Pergeseran Kekuasaan, dan Ujian Stabilitas Indonesia

5 hours ago 6

loading...

Harryanto Aryodiguno, Ph.D, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/Dok. SindoNews

Harryanto Aryodiguno, Ph.D
Ass. Prof. International Relations, President University

PERINTAH peningkatan kesiapsiagaan TNI dan langkah diplomatik pemerintah Singapura yang menghubungi para pemimpin negara-negara Teluk untuk membahas keselamatan warga negaranya seharusnya tidak dipahami sebagai respons teknis yang berdiri sendiri. Kedua perkembangan tersebut justru menunjukkan bahwa negara-negara di Asia Tenggara mulai membaca dinamika konflik di Timur Tengah dengan lebih serius.

Di Indonesia, telegram Panglima TNI memerintahkan peningkatan kesiapsiagaan personel dan alat utama sistem persenjataan, patroli terhadap objek vital strategis, pengawasan udara selama dua puluh empat jam, serta pemantauan kondisi warga negara Indonesia di wilayah yang berpotensi terdampak konflik. Sementara itu, pemerintah Singapura memilih pendekatan diplomatik dengan melakukan komunikasi langsung dengan para pemimpin negara Teluk guna memastikan perlindungan terhadap warga negaranya yang berada di kawasan tersebut.

Jika dilihat secara lebih luas, kedua langkah ini menunjukkan bahwa negara-negara di kawasan tidak lagi memandang ketegangan di Timur Tengah sekadar sebagai konflik regional biasa. Situasi tersebut semakin sering dipahami sebagai bagian dari dinamika perubahan yang lebih besar dalam sistem internasional.

Dalam diskursus hubungan internasional, kondisi ini sering dikaitkan dengan gagasan power transition, yaitu proses pergeseran distribusi kekuasaan dari satu kekuatan dominan menuju kekuatan lain yang sedang meningkat. Dalam konteks global saat ini, Amerika Serikat masih merupakan kekuatan militer dan institusional yang sangat dominan dalam sistem internasional. Namun di saat yang sama, China terus memperluas pengaruhnya melalui kekuatan ekonomi, teknologi, serta jaringan diplomasi yang semakin luas.

Situasi ini tidak berarti bahwa transisi kekuasaan telah selesai atau bahwa dominasi Amerika Serikat telah berakhir. Akan tetapi, berbagai konflik regional yang muncul dalam beberapa tahun terakhir sering kali dipahami sebagai gejala dari sistem internasional yang sedang bergerak dari konfigurasi unipolar menuju kondisi yang lebih kompetitif dan multipolar.

Dalam kondisi seperti ini, konflik di berbagai kawasan—termasuk Timur Tengah—sering kali memiliki implikasi yang jauh melampaui wilayah geografis tempat konflik tersebut terjadi. Ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut dapat mempengaruhi stabilitas energi global, jalur perdagangan internasional, serta dinamika keamanan regional di berbagai belahan dunia.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |