Gelombang Raksasa Nikel di Bursa Saham RI: Akankah BLUE Menuju Ekosistem EV?

8 hours ago 4

loading...

Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak lagi hanya diperebutkan di konsesi tambang, melainkan bergeser ke papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto/Dok

JAKARTA - Peta industri nikel dan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia tidak lagi hanya diperebutkan di konsesi tambang Sulawesi atau Maluku, melainkan bergeser ke papan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) . Terbaru, PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) mengumumkan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Shares Purchase Agreement/CSPA) antara para pemegang saham dengan Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited yang akan menjadi pengendali baru perseroan.

Dalam keterbukaan informasi BLUE pekan lalu, Kamis (19/2/2026), Dragonmine Mining berencana membeli 334,4 juta saham BLUE atau setara 80% dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Perkembangan ini merupakan kelanjutan proses akuisisi yang telah disampaikan perseroan sebelumnya pada November 2025.

Lantas, siapakah Dragonmine Mining yang akan menjadi pengendali baru BLUE? Akankah produsen tinta merk Blueprint berubah menjadi pemain nikel seperti halnya CNGR mengubah emiten kemasan plastik PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk?

Baca Juga: Meneropong Emiten Nikel di Tengah Laju Industri Kendaraan Listrik

Jika dilihat dari profil Dragonmine Mining yang merupakan perusahaan private berkantor pusat di Hong Kong, pemiliknya adalah Huayou Hongkong Limited. Meskipun BLUE belum memberikan keterangan lebih lanjut terkait identitas Dragonmine Mining, namun berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber, Huayou Hongkong Limited merupakan anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co.,Ltd, yang difokuskan sebagai unit investasi luar negeri di bidang pertambangan dan mineral.

Read Entire Article
Patroli | Crypto | | |