loading...
Di balik keindahan atap biru-kelabu Paris, jutaan warga Eropa tersiksa tanpa pendingin ruangan—dan solusinya ternyata tidak sesederhana sekadar memasang AC. Foto: Reuters
EROPA - Dalam lebih dari sepkan terakhir, gelombang panas menewaskan lebih dari 250 orang di Eropa—baik langsung karena sengatan panas maupun tidak langsung: tenggelam saat mencari kesejukan, atau anak-anak yang terlupakan di dalam mobil.
Namun solusi paling sederhana—memasang AC—ternyata bukan pilihan mudah di benua yang infrastrukturnya tidak dibangun untuk bertahan dari panas ekstrem semacam ini.
Eropa Memang Hampir Tanpa AC
Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan hanya 20 persen rumah di Eropa memiliki pendingin udara. Di Prancis angkanya sedikit lebih baik: sekitar 25 persen, berdasarkan laporan kementerian tahun 2020. Di Inggris lebih parah—hanya 14 persen rumah tangga yang punya AC.
Dampaknya nyata. Gelombang panas 2003 membunuh puluhan ribu orang di Eropa. Kini, lebih dari 94 juta orang tengah merasakan suhu di atas 35°C. Inggris mencetak rekor panas baru untuk bulan Juni: 36,1°C di sebagian wilayah selatan.
"Tidak ada satu malam pun saya tidur nyenyak, tapi saya rasa saya bukan satu-satunya. Sungguh mengerikan," kata Severine Le Beuzit, 54 tahun, warga Paris, kepada Reuters.
Atap Paris yang ikonik—laut genteng zinc berwarna biru-kelabu yang dilindungi undang-undang sebagai warisan budaya—memperburuk keadaan.
Tanpa insulasi, ditambah jendela kaca, lantai atas gedung-gedung Paris berubah jadi oven yang tak kunjung dingin bahkan di malam hari.
Mengapa AC Justru Bisa Memperparah Situasi
AC mendinginkan dalam ruangan, tapi memompa panas keluar. "Di kawasan kota yang padat, AC pada dasarnya memindahkan panas dari bangunan ke lingkungan urban dan bisa menciptakan efek pulau panas yang semakin kuat," jelas Hans-Martin Füssel, pakar risiko iklim di European Environment Agency.
Panas terperangkap di antara gedung-gedung beton, menambah beberapa derajat ekstra yang membuat gelombang panas terasa jauh lebih menyiksa.
Masalah Jaringan Listrik
Prancis yang 95 persen listriknya bersumber dari energi terbarukan—nuklir, hidro, angin, dan surya—pun tidak kebal. Gelombang panas berbentuk "kubah omega" memperlambat angin sehingga turbin kurang berputar. Air pendingin untuk reaktor nuklir berkurang. Hasilnya: produksi listrik turun, harga listrik grosir naik.
Lebih jauh lagi, AC yang ditenagai listrik dari bahan bakar fosil memperparah pemanasan global—penyebab utama gelombang panas yang kian intens itu sendiri.


















































