loading...
Kualitas teh dimulai dari perkebunan, lewat pemilihan daun teh muda, ketelitian tangan terampil, hingga proses yang menjaga rasa dan aroma tetap konsisten. Foto/Dok
JAKARTA - Teh telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Menyuguhkan teh kepada tamu menjadi simbol keramahan yang lekat dalam keseharian berbagai keluarga Indonesia.
Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS 2023 – 2024 juga menunjukkan bahwa teh merupakan minuman kedua yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia setelah air putih. Tidak heran jika setiap 21 Mei, peringatan Hari Teh Internasional turut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan panjang teh, mulai dari perkebunan hingga akhirnya hadir dalam keseharian masyarakat di Indonesia.
Kebiasaan mengonsumsi teh juga tercermin dalam riset Roy Morgan (Single Source - Indonesia), yang menunjukkan bahwa teh menjadi salah satu kebutuhan rutin rumah tangga Indonesia dan tersedia di 95% - 97% dapur keluarga. Hal tersebut membuktikan bahwa teh tidak hanya dikonsumsi sebagai minuman sehari hari, tetapi juga telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat lintas generasi.
Kualitas Teh Terbaik Ditentukan oleh Sumbernya
Tidak semua teh diproses melalui cara pengolahan yang sama. Dalam dunia teh, kualitas tidak hanya ditentukan saat proses pengolahan berlangsung, tetapi sudah dibentuk sejak daun teh muda masih berada di perkebunan. Mulai dari kondisi alam, kegiatan pemeliharaan tanaman, cara pemetikan, hingga penanganan setelah panen menjadi faktor penting yang menentukan karakter akhir teh yang dihasilkan.
Baca Juga: Profil Soegiharto Sosrodjojo, Pendiri Teh Botol Sosro yang Meninggal Dunia di Usia 95 Tahun
Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), faktor seperti ketinggian lahan, suhu udara, curah hujan, dan kelembapan memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman teh serta profil rasa yang dihasilkan. Perkebunan di dataran tinggi dengan suhu lebih sejuk umumnya menghasilkan daun teh dengan pertumbuhan lebih lambat dan menghasilkan karakter dengan aroma yang lebih khas dan wangi.
“Dalam industri teh, pertumbuhan yang lebih lambat justru dianggap ideal karena memberi tanaman lebih banyak waktu untuk membentuk senyawa alami seperti polifenol, asam amino, dan minyak esensial. Senyawa inilah yang berperan dalam menciptakan aroma yang kaya, lapisan rasa yang lebih mendalam, serta karakter seduhan yang halus,” kata Head of Marketing Communications & Public Relations PT Sinar Sosro Gunung Slamat, Devyana Tarigan.


















































